Tuntutan dan harapan yang begitu besar terhadap seni akan fungsinya dalam mengurai atau “menggurah” permasalahan-permasalahan dan konflik sosial di masyarakat, secara tidak langsung menempatkan seniman dalam posisi yang strategis. Di sisi lain, posisinya juga menjadi kritis karena tak jarang seniman berjarak dengan konflik sosial yang ada. Kemampuan seniman untuk “mendengar” dan “melihat” kemudian menjadi sangat krusial.

Ekperimentasi baik secara praktik maupun wacana dilakukan untuk mengejar capaian artistik dan estetik guna memenuhi harapan tersebut. Namun eksperimentasi-eksperimentasi ini bisa jadi justru membuatnya semakin berjarak dengan persoalan sosial di masyarakat tersebut. Belum mapannya infrastruktur kritik seni di Indonesia yang seharusnya bisa “menggurah” seniman dan karyanya, mendorong munculnya tuntutan baru agar seniman juga bisa “menggurah” karyanya sendiri dan selalu mempertanyakan tentang kontribusinya di masyarakat.

KNPS secara wacana mengajak semua yang terlibat untuk melakukan otokritik, baik bagi seniman dan publik seni yang harus selalu meninjau ulang praktek-praktek seni yang dilakukan ditengah infrakstruktur seni rupa yang belum mapan, maupun lebih luas lagi bagi masyarakat umum dalam menyikapi berbagai macam konflik yang ada ditengah melemahnya fungsi infrastruktur negara yang cenderung memicu timbulnya gesekan horisontal. Tak jarang munculnya konflik disebabkan oleh kesalah pahaman dalam merespon apa yang “didengar” dan bagaimana cara “melihatnya”, dimana apa yang “dilihat” tidak selalu sama dengan apa yang “didengar” dan atau sebaliknya.

KNPS merupakan karya aktivitas performatif dalam instalasi site-specific dimana otokritik sebagai aktivitas pemurnian yang intangible direpresentasikan kedalam bentuk aktivitas pemurnian fisik yang tangible. Melalui karya ini, KNPS kemudian mengambil peran selayaknya ‘institusi formal’ yang seolah-olah memiliki otoritas resmi untuk memaksa masyarakat melakukan proses pemurnian ini. Interaksi-interaksi melalui sistem birokrasi yang dirancang dalam karya ini akan memicu ketegangan, baik antara individu dengan ideologi personal yang diyakininya, maupun dengan medan sosial disekitarnya. Diharapkan setelah melalui proses ini, pengunjung tidak hanya mengalami pemurnian secara fisik namun juga merasakan pengalaman yang nyata tentang konflik yang kemungkinan muncul ketika melakukan otokritik.

KNPS diinisiasi oleh Ace House Collective, Yogyakarta dan merupakan salah satu karya dalam pameran utama Biennale Jogja XIII: Hacking Conflict

 

 


 

The great demands and expectations toward the art of its function in breaking down or “menggurah (to cleanse or to unclog)” problems and social conflicts in society, indirectly put artists in a strategic position. On the other hand, its position has also become critical because often artists distance themslves with the existing social conflicts. The ability of the artists to “hear” and “see” and then becomes very crucial.

 Experiments both in practice and discourse were executed to pursue artistic and aesthetic achievements in order to meet these expectations. But such experiments perhaps may create an even more distance to the actual social problems in the community. The inestablished level of art criticism infrastructure in Indonesia that should work to “menggurah” or to unclog the artists and their work, encouraging the emergence of new demands that artists can also “menggurah” or unclogging his own work and always questioning about his contribution in the community.

KNPS in discourses invites everyone involved to do self-criticism, both for artists and art public, to should always review the practices of art that comes amid the infrastructure of art that has not yet established, and even broader to the public in dealing with various kinds of existing conflicts amidst the weakening of the country’s infrastructure functions which tend to lead to horizontal friction. It is frequently occured that the appearance of a conflict caused by misunderstandings due to inaccurately responded what is “heard” and how to “see” a matter, where in fact what is “seen” is not always the same as what is “heard”, and vice versa.

 KNPS is a performative activity work in a site-specific installation in which self-criticism as intangible purification activities are represented in the form of tangible physical refining activity. Through this work, KNPS then take the appropriate role of ‘formal institutions’ that seems to have the legal authority to force people to do this purification process. Interactions through the bureaucratic system designed in this work will lead to tensions, both among individuals with personal ideology that they believes in, as well as with the social terrain around it. Hopefully after going through this process, visitors are not only experiencing mere physical purification, but also undergo the real experience of the conflicts that may arise when performing self-criticism.

 KNPS was initiated by Ace House Collective, Yogyakarta and is one of the main works in exhibition at Biennale Jogja XIII: Hacking Conflict

Share this:
FacebookTwitterWhatsAppLinePrint