Presentasi dengan format pameran retrospektif ini adalah catatan proses berkarya dan konsistensi atas pilihan kerja kesenian termasuk wacana dan bahasa visual dalam kurun waktu satu dekade yang telah dilakukan seniman-seniman Ace House Collective.

Pergesekan antara genre musik death metal dan occultisme jawa, potongan-potongan adegan beserta karakter dalam film-film unrated, atau sekedar catatan personal yang jujur pun penuh roman dengan kompleksitasnya namun dibenturkan dengan realitas harian adalah narasi yang kerap muncul dalam karya-karya Ahmad Oka, Decki Leos, dan Krisna Widiathama. Alih-alih menggambarkannya dengan ‘indah’, ketiga seniman ini memilih gaya visual dark-noir. Sebuah genre visual yang kerap diasosiasikan dengan hal-hal berbau minor. Penuh kekerasan, cenderung kampungan, dan jauh dari kata mainstream.

Dalam pameran Back To The Future #1 ini, pilihan atas kecenderungan gaya visual tersebut dipresentasikan melalui sebuah istilah Grindhouse. Terminologi yang berasal dari fenomena lahirnya bioskop kelas B dalam industri perfilman di Amerika yang marak pada tahun ’60-‘70an. Bioskop-bioskop yang khusus menyiarkan film-film unrated. Sebuah genre film yang kerap bertemakan sarkasme, eksploitasi seks dan berjarak dari hiruk-pikuk cahaya lampu industri film kelas A, Hollywood.

Dalam konteks kerja kesenian tiga seniman ini, fenomena Grindhouse menjadi sahih ketika satirisme atas konstruksi budaya berkejaran dengan perayaaan sebuah subjek dengan identitasnya yang berlapis. Romantika yang dicitrakan dalam gaya visual ini pun tak ayal menawarkan lindasan atas resepsi wacana estetika yang dominan.

Share this:
FacebookTwitterWhatsAppLinePrint